Logo SantriDigital

Pendiri NU saja berthoriqoh

Khutbah Jumat
A
Abdul Basit
30 April 2026 4 menit baca 1 views

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْ...

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Sungguh, hati yang bergetar ini dituntun oleh ketakutan dan harapan. Ketakutan akan siksa-Nya yang pedih, dan harapan akan rahmat-Nya yang luas tanpa batas. Di hari yang mulia ini, mari kita renungkan sejenak tentang perjalanan ruhani yang telah ditempuh oleh para pewaris para nabi, para ulama yang telah menghidupkan cahaya Islam di tanah air tercinta ini. Terutama, marilah kita mengenang jejak para pendahulu kita, para pendiri jam'iyah yang senantiasa berjuang di jalan Allah, yang salah satunya adalah mengamalkan tarekat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Zat Yang Maha Pengasih. Kita melihat, di balik segala kesibukan duniawi, ada kerinduan mendalam untuk bersua dengan Sang Pencipta. Para pendiri NU, mereka bukan hanya sekadar ulama. Mereka adalah kekasih Allah yang merindukan kasih-Nya. Mereka mengerti bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan, sebuah "suluk" menuju Allah Ta'ala. Dalam perjalanan ini, terkadang langkah terasa berat, terkadang hati terasa gersang. Di sinilah peran tarekat menjadi begitu berharga. Ia bukan sekadar ritual, ia adalah jalan yang ditempuh dengan penuh kesedihan, penuh kerinduan, menuju keharibaan-Nya. Sebagaimana firman Allah, "وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ" (QS. Al-Ankabut: 69). Sungguh, Dia pasti akan menunjuki mereka jalan-jalan-Nya. Perjalanan para pendiri NU dalam tarekat adalah bukti nyata keberanian mereka berjihad melawan hawa nafsu dan kebatilan, demi menemukan jalan-jalan keridhaan Allah. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Air mata seringkali tak mampu lagi menahan rasa haru ketika kita teringat betapa luasnya rahmat Allah, dan betapa kecilnya amal kita. Para ulama pendahulu kita, dengan ketulusan hati dan kedalaman ruhani mereka, telah mengajarkan kepada kita bahwa tarekat adalah wadah untuk memupuk cinta kepada Allah. Di dalamnya, ada dzikir yang menenangkan jiwa, ada tafakur yang membuka mata hati, ada muroqobah yang membuat kita merasa selalu diawasi oleh-Nya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ، سِوَى الْحَفَظَةِ، فَإِذَا وَقَعَتْ رَحْمَةُ اللهِ أَتَتْهُمُ الْحَجَّاجُ، فَيَقُولُونَ: إِنَّ هَذِهِ رَحْمَةٌ حَلَّتْ بِأَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَيَشْهَدُهَا حَاضِرُهَا وَغَائِبُهَا، إِلَّا حَمَّالُ الْخَبَرِ." (HR. Bukhari). Ada malaikat Allah yang berkeliling mencari rahmat-Nya. Betapa besar harapan kita agar rahmat itu pun singgah di hati kita yang gersang ini. Tarekat, dengan segala dzikir dan munajatnya, adalah salah satu tangga untuk meraih rahmat tersebut. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Pernahkah kita membayangkan, di saat hening malam, para pendiri NU merenungi ayat-ayat Allah dengan berlinang air mata? Merenungi betapa hina diri ini di hadapan keagungan-Nya. Merenungi detik-detik yang terus berlalu tanpa disadari, membawa kita semakin dekat pada perjumpaan-Nya. Dosa-dosa kita menumpuk, bagaikan kabut tebal yang menghalangi pandangan hati. Tarekat mengajarkan kita untuk membersihkan hati, membuang segala penyakitnya, agar cahaya iman dapat bersinar terang. Allah berfirman, "قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا" (QS. Asy-Syams: 9-10). Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya. Para pendahulu kita, melalui tarekat, berjuang keras menyucikan jiwa mereka, memohon ampunan agar kelak saat bertemu Allah, mereka membawa hati yang bersih. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Mari kita tarik nafas dalam-dalam. Rasakan beratnya langkah kita dalam menghadapi godaan dunia. Betapa seringnya kita lalai, betapa seringnya kita tergelincir. Tangisan adalah bahasa hati yang paling jujur. Tangisan penyesalan atas dosa-dosa yang telah lalu, tangisan kerinduan untuk kembali kepada Allah. Sebagaimana pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا." (HR. Bukhari & Muslim). Kalau kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Kengerian neraka, keindahan surga, luasnya rahmat Allah, itu semua adalah hal yang seharusnya membuat hati kita bergetar dan air mata mengalir. Para pendiri NU yang mengamalkan tarekat, mereka telah merasakan getaran itu, mereka telah membasahi sajadah mereka dengan air mata penyesalan dan kerinduan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Di akhir khutbah ini, saya mengajak diri saya pribadi dan kita sekalian, marilah kita tengok kembali hati kita. Apakah hati ini sudah pantas untuk menghadap Allah? Apakah kita sudah benar-benar rindu kepada-Nya? Jikalau memang kita ingin merasakan kedamaian sejati, jikalau kita ingin mendapatkan kebahagiaan abadi, maka mari kita teladani perjuangan para ulama pendahulu kita. Mari kita hidupkan kembali semangat tarekat dalam diri kita, bukan sekadar gerakan fisik, tapi lebih dari itu, sebuah kesungguhan hati untuk mendekat, merindukan, dan mencintai Allah. Jangan biarkan kesibukan dunia melenakan kita, jangan biarkan godaan setan menjauhkan kita dari rahmat-Nya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →